Nusantara kita terdiri dari ribuan pulau dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah. Diantara pulau-pulau itu, ada sebuah pulau yang bentuknya menyerupai huruf K. Pulau itu tidak lain adalah Pulau Sulawesi. Dahulu, pada abad ke-15 sampai abad ke-17, di bagian pulau sulawesi terletak sebuah kerajaan yang besar dan disegani bernama kerajaan gowa. Menurut catatan para ahli, kerajaan gowa ini didirikan pada sekitar tahun 1300 Masehi dan dikenal serta disegani oleh bangsa Eropa kerena kebesaran dan kekuatan armada perangnnya. Salah satu raja yang memerintah kerajaan gowa itu adalah I Mallombasi Daeng Mattawang, Karaeng Bonto Mangape, Sultan Hasanuddin, Tumenanga ri Ballapangkana (yang meninggal di istananya yang indah). Beliau dikenal sebagai Sultan Hasanuddin, yang dijuluki "Ayam Jantan Dari Timur". Raja Gowa ke-16 yang memerintah kerajaan gowa tahun 1653-1669 menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid yang memerintah pada tahun 1639-1653.16/02/12
Riwayat Perjuangan Sultan Hasanuddin
Nusantara kita terdiri dari ribuan pulau dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah. Diantara pulau-pulau itu, ada sebuah pulau yang bentuknya menyerupai huruf K. Pulau itu tidak lain adalah Pulau Sulawesi. Dahulu, pada abad ke-15 sampai abad ke-17, di bagian pulau sulawesi terletak sebuah kerajaan yang besar dan disegani bernama kerajaan gowa. Menurut catatan para ahli, kerajaan gowa ini didirikan pada sekitar tahun 1300 Masehi dan dikenal serta disegani oleh bangsa Eropa kerena kebesaran dan kekuatan armada perangnnya. Salah satu raja yang memerintah kerajaan gowa itu adalah I Mallombasi Daeng Mattawang, Karaeng Bonto Mangape, Sultan Hasanuddin, Tumenanga ri Ballapangkana (yang meninggal di istananya yang indah). Beliau dikenal sebagai Sultan Hasanuddin, yang dijuluki "Ayam Jantan Dari Timur". Raja Gowa ke-16 yang memerintah kerajaan gowa tahun 1653-1669 menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid yang memerintah pada tahun 1639-1653.08/02/12
Kisah Percintaan Datu Museng Dan Maipa Deapati
23/12/11
Menelusuri Sejarah Perjuangan Ranggong Daeng Romo
Ranggong Daeng Romo dilahirkan pada tahun 1915, di suatu tempat yang dikenal oleh masyarakat dengan nama kampung Bone-Bone, Bate Moncokomba, Distrik Polombangkeng, Takalar. Ia adalah putra sulung dari enam bersaudara dari pasangan suami istri Gallarang Moncokomba, Mangngulabbe Daeng Makkiyo dengan Bati Daeng Jimo. Mereka adalah keturunan keluarga bangsawan kaya yang dermawan di Polombangkeng yang mempunyai tradisi kepahlawanan dalam membela dan mempertahankan kehormatan bangsa dan tanah air.
Sejak kecil, Ranggong Daeng Romo ditempa untuk menjadi anak yang berguna bagi masyarakat. Ia dimasukkan belajar pada pondok pesantren di Cikoang untuk memperoleh pendidikan ajaran Islam dan lanjut ke Sekolah Rakyat atau Inlandsche School. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah tersebut, ia hendak dimasukkan ke HIS, tapi karena pendiriannya yang teguh dan tidak menyukai sekolah milik Belanda, maka ia dimasukkan ke sekolah Partikulir atau Taman Siswa yang telah dikenalnya.
Setelah berhenti bersekolah, ia kembali ke Polombangkeng mendampingi orangtuanya dalam menjalankan roda pemerintahan sebagai Gallarang Moncokomba. Ketika ia berusia 18 tahun, ia dikawinkan dengan sepupunya yang bernama Bungatubu Daeng Lino, puteri Gallarang Bontokandatto, Tarasi Daeng Bantang pada tahun 1993. Sejak itu, ia membantu mertuanya yang juga pamannya dalam menjalankan tugas pemerintahan sebagai Gallarang Bontokandatto sampai pada masa pendaratan militer Jepang tahun 1942.
Pada masa pendudukan militer Jepang, Ranggong Daeng Romo bekerja pada perusahaan Jepang Naniyo Kuhatsu Kabusuki Kaisha (NKKK) yaitu perusahaan pembelian beras dari militer Jepang di Takalar. Ini merupakan upaya penyesuaian diri agar tetap dapat memperhatikan dan melindungi rakyat dari kekejaman penguasa militer Jepang.
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, yang diumumkan oleh Soekarno-Hatta, atas nama seluruh bangsa Indonesia ke seluruh pelosok tanah air, maka atas persetujuan Karaeng Polombangkeng Pajonga Daeng Ngalle, Ranggong Daeng Romo termasuk salah satu yang memprakarsai berdirinya organisasi perjuangan di Polombangkeng, yang kemudian dikenal dengan nama Gerakan Muda Bajeng (GMB).
Organisasi perjuangan Gerakan Muda Bajeng ini dibentuk pada tanggal 16 Oktober 1945. Pada mulanya Ranggong Daeng Romo hanya diangkat sebagai komandan barisan penerjang/pertahanan untuk wilayah Moncokomba dan merangkap sebagai Kepala Wilayah (Bate) Ko’Mara. Karena keberhasilannya dalam mengemban tugas tersebut, maka pada tanggal 27 Februari 1946, Ranggong Daeng Romo diangkat menjadi komandan barisan penerjang Gerakan Muda Bajeng.
Pada tanggal 2 April 1946, GMB menjelma menjadi Laskar Lipan Bajeng, dan Ranggong Daeng Romo diangkat sebagai pucuk pimpinan. Kelaskaran Lipan Bajeng ini merupakan salah satu dari sekian banyak laskar perjuangan yang ada di daerah Sulawesi Selatan dan sekaligus merupakan salah satu wadah bagi rakyat dalam perjuangan menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Untuk mewujudkan rencana penyatuan kelaskaran-kelaskaran yang tersebar di setiap daerah dalam satu wadah, maka pada tanggal 17 Juli 1946, terbentuklah secara resmi organisasi gabungan kelaskaran yang dikenal dengan nama “Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS),” yang terdiri dari gabungan 19 organisasi laskar perjuangan dan Ranggong Daeng Romo diangkat sebagai Panglima LAPRIS (Ketua Bidang Ketentaraan/Kemiliteran).
Tanggal 21 Februari 1946 untuk pertama kalinya, Ranggong Daeng Romo memimpin langsung pertempuran dengan kekuatan kurang lebih 100 orang anggota pasukan menyerang kubu pertahanan musuh (Belanda) di daerah Takalar dan tanggal 28 Februari 1947 merupakan pertempuran terakhir yang dipimpin langsung oleh Ranggong Daeng Romo di bukit Lengkese, dimana ia sendiri gugur sebagai ksatria dalam pertempuran tersebut.
22/12/11
02/12/11
Menelusuri Sejarah Berdirinya Kota Makassar Melalui Kompleks Makam Raja Tallo
Kota Makassar adalah salah satu kota tua di Indonesia berkembang dari sebuah wilayah kecil bernama Tallo. Di tempat ini terbaring jasad para Raja-raja dan pendiri kota makassar. Jika anda ingin menelusuri kembali serta ingin memahami arti penting Makassar dalam sejarah peradaban Nusantara, silahkan langsung saja datang ke Tallo di Kelurahan Tallo Kecamatan Tallo Makassar, berkisar anatar 6 kilometer dari sebelah utara pusat kota Makassar, disana terdapat Kompleks Makam Raja-raja Tallo.
25/11/11
Selamat Hari Guru
Selamat Hari Guru
Sudahkah Anda Sholat Hari Ini
![]() |
| Masjid Al-Ittihad Jl. Toddopuli 7 Makassar |
17/11/11
Siswa SMA Nurkarya Tidung Makassar Juara Di Singapura?
Salah seorang siswa SMA Nurkarya Tidung Makassar mengukir prestasi membanggakan yang luar biasa, yaitu dengan menjuarai turnamen bulu tangkis Singapura Open yang berlangsung di Singapura Oktober lalu sebagai juara pertama. Ridho Unggul Setiady yang duduk di kelas II IPA SMA Nurkarya Tidung menggambarkan prestasinya dengan perasaan bahagia, meskipun ia disibukkan dengan kegiatan-kegiatan latihan bulu tangkis, ia juga tetap aktif dalam bersekolah.itu kata Kepsek SMA Nurkarya tidung, tapi kalau kata teman-teman di Nurkarya.. Ridho itu berhasil atas usahanya sendiri bukan hasil dari bimbingan di sekolah. Sekolah mana mau mengeluarkan biaya yang gak penting hanya untuk membina seorang Ridho menjadi seorang juara.. Sekolah hanya mau menuai hasil yang bukan dari jerih payahnya.. Dasar tukang caplok..




